Just focus to finish SKRIPSWEET.. hahaha it’s joke.

Learning everything that I haven’t learned.

Make the highest quality women.

So,, just learning and learning…

Setelah saya membaca lebih dalam tentang perekonomian di Amerika, saya semakin merasa bahwa negara kita sangat berkiblat kepada Amerika. Saya rasa itulah penyebabnya kenapa kemiskinan di Indonesia terus saja belum membaik.

Tentang pendapatan perkapita yang ternyata dijadikan patokan untuk mencari besaran modal per pekerja yang harus dicapai untuk menuju kondisi mapan kaidah emas pada model pertumuhan Solow, saya masih terngiang terus dipikiran saya kenapa harus pendapatan per kapita yang dijadikan patokan?? Apakah untuk mempermudah perhitungan?? Di sana dijelaskan bahwa terdapat persamaan

 

Yang kemudian persamaan tersebut berubah menjadi

 

Karena diasumsikan keadaan konsumsi per pekerja tersebut berada pada kondisi mapan sehingga  dan investasi sama dengan depresiasi. Di mana kemiringan kurva pada persamaan tersebut menunjukkan . Karena kemiringan kurva tersebut menunjukan MPK.

Acuan dasar yang digunakan para ekonom kita adalah KONSUMSI PER PEKERJA PADA KEADAAN MAPAN. Apakah hal tersebut bias meakili keseluruhan masyarakat kita. Jika yang digunakan adalah rata-rata dari keseluruhan konsumsi pasti hal tersebut sangatlah tidak mewakili kondisi secara keseluruhan. Oleh karena itulah saya tetap pada pertayaan awal saya, kenapa selalu memakai rata-rata dari keseluruhan yang pada kenyataannya Negara kita adalah Negara yang sangat beragam.

Sedikit pro pemerintah kali ini saya ingin mengkritik saya sendiri dan masyarakat secara umum. Jika anda pergi ke pasar kemudian ingin membeli apel, apel mana yang akan anda beli?? Apel malang ataukah apel australia di mana harga apel australia lebih murah dibandingkan apel malang?? Saya sendiri mungkin akan lebih memilih apel australia karena uang saya memang terbatas. Tapi taukah anda bahwa sebenarnya kita dengan tidak sengaja telah membuat nilai netto ekspor negara kita menjadi negatif??
Selain itu, jika anda punya uang dan anda ingin menginvestasikan uang anda ke sebuah perusahaan, perusahaan manakah yang akan anda pilih?? Perusahaan lokal ataukah perusahaan asing?? Pasti perusahaan asing bukan??
Itulah potret masyarakat Indonesia secara umum meskipun masih terdapat beberapa masyarakat yang aware terhadap produk lokal. Jika seperti ini apakah anda akan selalu menyalahkan pemerintah??
Saya pernah membaca suatu artikel yang ternyata dituliskan bahwa negara berkembang sangat cenderung terjadi korupsi. Hal itu sangat menggambarkan negara kita bukan. Bagaimana negara kita bisa dipercaya untuk diberi pinjaman jika keadaannya masih seperti itu. Padahal untuk membiayai anggaran belanja negara ada kalanya kita membutuhkan investasi dari luar negeri. Namun menurut saya jika ternyata orang-orang kaya di Indonesia bersedia memberikan uangnya untuk modal usaha mungkin tanpa pinjaman dari luar negeri negara kita bisa menutupi kebutuhan untuk investasi.
Namun pernyataan saya tadi sempat saya telaah kembali karena ternyata ada suatu pernyataan dari sebuah buku yang menyatakan bahwa negara yang protektif terhadap barang luar negeri (membatasi impor) tidak akan bisa meningkatkan nilai ekspor netto seperti yang diharapkan karena selisih tabungan negara dengan investasi tidak terjadi perubahan dan yang terjadi hanya terapresiasinya mata uang rupiah. Saya sendiri masih belum bisa menjelaskan apa dampaknya terhadap masyarakat kita jika mata uang kita terapresiasi. Tapi yang jelas peningkatan tabungan negara dan mencintai produk lokal adalah cara agar neraca perdagangan kita mengalami surplus.
Peningkatan tabungan negara mungkin dapat direalisasikan dengan cara peningkatan pajak non produksi dan pengalokasian anggaran belaja negara yang optimal dan efisien. Tapi tetap harus dititikberatkan bahwa negara tidak acuh terhadap rakyat miskin. Bantuan modal untuk pembentukan usaha mereka tetap harus diperhatikan tanpa menambah anggaran negara. Dan yang wajib dilakukan masyarakat untuk membantu pemerintah adalah dengan cinta terhadap produk lokal dan lebih memilih untuk menanam modal di perusahaan lokal.

Mungkin masyarakat umum sering bertanya kenapa inflasi tidak segera diturunkan sampai mendekati nol. Karena bagi mereka inflasi sangat merugikan mereka. Harusnya pemerintah bisa memberi pemahaman bahwa inflasi memang harus terjadi dengan besaran yang kecil seperti 2%-3%. Inflasi sebesar itu akan menguntungkan rakyat sendiri. Pemahaman seperti ini harus dijelaskan kepada masyarakat agar mereka mengerti maksud pemerintah. Tapi mungkin pemerintah enggan untuk menjelaskannya karena mungkin banyak masyarakat yang sulit mengerti penjelasan tersebut. Tapi kenapa tidak dicoba dulu??
Inflasi sebesar 2%-3% dikatakan bagus karena hal itu dapat menaikkan upah tenaga kerja. Dengan besaran inflasi tersebut kenaikan harga akan lebih kecil dibanding kenaikan upah tenaga kerja.
Saya sebagai orang awam merasa bank sentral kita sudah berusaha keras dalam menekan laju inflasi. Mungkin hanya sebagai tambahan, saya kadang mempertanyakan kenapa anggaran belanja negara kita sangat besar?? Sebenarnya tidak masalah jika anggaran yang besar itu bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun kenyataannya anggaran belanja lebih dialokasikan untuk menggaji para pegawai negeri yang kadang menurut saya itu sangat tidak efisien. Seperti hal nya kasus pada kurva fungsi produksi ada suatu titik yang merupakan titik maksimal penggunaan input, dimana jika kita tambah lagi jumlah input akan menurunkan jumlah output. Hal itu sangat sebanding untuk menggambarkan tenaga kerja sipil negara kita, bahkan setelah tidak ada pekerjaan lagi kadang pemerintah membentuk suatu institusi-institusi baru yang berdampak pada tingginya sistem briokrasi kita. Dan pada akhirnya itu akan mempersulit masyarakat untuk mengurus suatu kepentingan seperti surat-surat penting.
Saya pernah bertanya kepada pemuda-pemuda di kampung saya, saya bertanya kepada mereka kenapa mereka sangat antusias untuk bisa bekerja sebagai pegawai negeri?? Jawaban mereka sangat sederhana tapi sangat tidak terpelajar menurut saya. Gaji yag lumayan tiap bulannya, dapat tunjangan masa tua dan kerjanya sangat santai sekali. Belum cukupkah alasan-alasan itu untuk memotong jumlah pegawai negeri kita??
Andai saya jadi seseorang yang berkuasa dan punya hak. Saya akan lebih konsen untuk mengalokasikan anggaran negara untuk bantuan usaha masyarakat baik kecil ataupun besar. Bukannya masyarakat sudah mulai bangkit dan mulai merintis usaha-usaha baru?? Jika modal cukup pasti produksi bisa berjalan, kesempatan kerja juga akan tumbuh dan kemakmuran masyarakat akan berubah lebih baik. Meskipun butuh ekstra pengawasan agar modal itu benar-benar digunakan untuk usaha bukan konsumsi. Jika masih ada yang menanyakan bagaimana dengan tunjangan hari tua . Saya bisa menjawab dengan mudah, asuransi di negara kita sudah sangat bisa dipercaya. Jadi bukan hanya pegawai negeri saja yang bisa merasakan tunjangan hari tua.
Apakah pernyatan-pernyataan saya tersebut bisa diterima wahai kalian para pemerintah?????

 

Karena saya hanya orang awam yang belum mengetahui secara langsung keadaan pemerintahan kita, saya sedikit ragu apakah pernyataan-pernyataan saya ini benar. Jika suku bunga yang berlaku saat ini merupakan hasil dari keseimbangan dari penerimaan dan penawaran atas suku bunga di pasar uang,  maka berbeda dengan pajak yang ada pada saat ini yang merupakan hasil dari kebijakan pemerintah.

Pengelola uang terutama bank sentral harus kerja keras untuk menetapkan suku bunga yang paling optimal. Karena jika suku bunga tersebut mengalami kenaikan ataupun penurunan sedikit saja maka akan berdampak langsung terhadap perekonomian. Inflasi atau mungkin sulitnya suatu produksi untuk berproduksi akibat kurangnya modal adalah dampak yang akan terjadi selanjutnya.

Jika pajak yang diotak-atik maka kebijakan pemerintahlah yang akan berperan penting. Jika pajak dipotong maka yang terjadi adalah disposable income akan naik sehingga konsumsi akan naik yang selanjutnya harus diimbangi dengan penurunan investasi. Investasi turun suku bunga akan naik. Selain investasi, tabungan negara pun akan turun. Hal tersebut akan menyebabkan tersendatnya pelunasan utang negara ataupun berkurangnya modal di pasar modal yang dibutuhkan oleh industri atau usaha.

Pemerintah harus jeli menerapkan suatu pajak, seharusnya pajak itu lebih dibebankan kepada pajak konsumsi dan hura-hura. Bukan pajak produksi yang menjadi sasaran seperti yang sekarang sering terjadi di negara kita. Mungkin benar jika ternyata konsumsi adalah bagian yang sangat besar sumbangannya terhadap kenaikan GDP suatu negara. Namun harus diketahui bahwa produksi sangat membutuhkan potongan-potongan biaya produksi seperti pajak agar bisa terus tumbuh menjadi besar sehingga pengangguran bisa diatasi.

 

Jika saya petani pasti saya berharap agar nanti pada saat saya panen harga produk tani yang saya hasilkan berharga tinggi. Namun jika saya menjadi seorang pengusaha saya selalu berdoa agar produk pertanian murah. Lalu apakah yang seharusnya terjadi?? Apakah kita hanya melihat dari sisi petani ataukah dari sisi pengusaha atau malah dari sisi kedua-duanya?? Jika ada yang menjawab dari sisi kedua-duanya saya sangat berharap anda bisa menjelaskan kepada saya.

Ini hanya pendapat saya, yang jelas menurut saya seharusnya petani selain jadi petani juga jadi pengusaha dan yang seorang pengusaha juga harus jadi petani. Jika seperti itu mungkin tidak ada lagi yang meributkan harga barang input yang pada saat era birokrasi tingkat tinggi ini selalu pro kepada industri.


Jika saya tiba-tiba ingin membuka sebuah usaha, yang pertama saya pikirkan adalah modal bisa saya dapat dari mana ya?? Apakah pertanyaan saya juga anda pertanyakan?? Apakah di negara ini benar-benar tidak terdapat satupun lembaga yang bisa dimintai modal untuk sebuah usaha dengan bunga yang rendah??

Andaikata modal sudah terpenuhi produksi kemudian berjalan, apakah laba yang diperoleh sesuai dengan harapan?? Mungkin kebanyakan orang bilang tidak, karena pada saat mulai berproduksi pasti biaya input yang dikeluarkan tidak sekecil yang diharapkan. Belum lagi masalah pajak produksi yang sapengetahuan saya begitu tinggi jika dibandingkan dengan pajak ekspor?? Apakah itu yang kita inginkan??

Apakah menurut anda benar bahwa Jika GDP suatu negara naik maka tingkat ekonomi mengalami pertumbuhan?? menurut saya itu memang benar. Tapi apakah anda pernah berfikir apakah pertumbuhan ekonomi itu bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat secara keseluruhan?? Menurut saya itu TIDAK. Karena GDP hanya menjumlahkan keseluruhan pendapatan nasional, sedangkan pendapatan tiap orang pasti berbeda. Bagaimana jika selisih pendapatan sesorang yang tertinggi dengan pendapatan orang yang terendah hampir sama dengan pendapatan orang yang tertinggi?? Apakah itu adil?? JADI, PERLUKAH SUATU NEGARA MEMPERHITUNGKAN GDP JIKA TUJUAN AWAL SUATU NEGARA ADALAH UNTUK MEMAKMURKAN SELURUH RAKYAT???

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories
Bookmarks